f CERITA18TERBARU | CERITA BOKEP | CERITA SEX | CERITA DEWASA | CERITA BUGIL | CERITA NGENTOT
Tampilkan postingan dengan label Sahabatpoker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabatpoker. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2020

Pelajaran Sex Dari Tante Reni Yang Semok

CERITA DEWASA - Dari kecil aku tinggal bersama nenekku, dan bersama nenekku tinggal dengan om-om dan tante-tanteku (anak-anak dari nenekku). Omku yang ketiga menikah dengan seorang wanita yang bernama Reni yang kupanggil dengan sebutan Tante Reni .


Tante Reni orangnya cantik, wajah dan tubuhnya cukup sexy dan orangnya mudah bergaul, terutama denganku.

Oh ya, namaku adalah Bayu, masih sekolah di SMA waktu itu. Semula omku tersebut tinggal bersama kami, dan aku yang saat itu sedang menikmati masa remaja kira-kira umur 16 tahun sering melihat Tante Reni bercumbu dengan suaminya, dan kadang-kadang di depanku Tante Reni mengusap penis omku, sebut saja Om Wahyu. Batang kemaluanku yang saat itu sedang remaja-remajanya langsung menjadi tegang, dan setelah itu aku melakukan onani membayangkan sedang bersetubuh dengan Tante Reni.

Setelah mereka menikah 1 tahun, akhirnya mereka pindah dari tempat nenek kami dan membeli rumah sendiri yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah nenek kami. Kalau Tante Reni hendak pergi, biasanya dia memanggilku untuk menjaga rumahnya, takut ada maling. Suatu hari aku dipanggil oleh Tante Reni untuk menjaga rumahnya.

Ketika aku datang, dia sedang ada di kamar dan memanggilku, “Bayu, masuk ke kamar..!” teriaknya.

“Ya Tante..” jawabku.

Ternyata di dalam kamar, tante sedang memakai BH dan celana dalam saja, aku disuruh mengaitkan tali BH-nya. Dengan tangan gemetaran aku mengaitkan BH-nya. Rupanya Tante Reni tahu aku gemetaran.

Dia bertanya, “Kenapa Bayu gemetaran..?”

“Enggak Tante,” jawabku.

Tapi tante cepat tanggap, dipeluknya tubuhku dan diciumnya bibirku sambil berkata, “Bayu, Tante ada perlu mau pergi dulu, ini Tante kasih pendahuluan dulu, nanti kalau Tante pulang, Tante akan berikan yang lebih nikmat.”

“Ya Tante.” jawabku.

Kepalaku terasa pusing, baru pertama kali aku menyentuh bibir seorang wanita, apalagi wanita cantik seperti Tante Reni. Lalu aku ke kamar mandi melakukan onani sambil membayangkan tubuh Tante Reni.

Sekitar jam 3 sore, tante pulang dan aku menyambutnya dengan penuh harap. Tante Reni langsung masuk kamar, sedangkan aku menunggu di ruang tamu, kira-kira 10 menit kemudian, dia memanggil pembantunya dan disuruh ke supermarket untuk membeli sesuatu, jadi tinggalah di rumah hanya aku dan Tante Reni saja.

Setelah pembantunya pergi, Tante Reni menutup pintu dan menggandengku untuk masuk ke kamarnya.

Lalu Tante Reni berkata, “Bayu, seperti yang kujanjikan, aku akan meneruskan pendahuluan tadi.”

Aku diam saja, gemetar menahan nafsu.

Tiba-tiba Tante Reni mencium bibirku, dan berkata, “Balaslah Bayu, hisap bibirku..!”

Aku menghisapnya, dan terasa bibirnya sangat enak dan bau tubuhnya wangi, karena dia memakai parfum Avon yang merangsang, aku menjadi salah tingkah.

Tiba-tiba dia memegang batang kemaluanku, aku sangat kaget.

“Wah punyamu sudah tegang dan besar Bayu,” sahut Tante Reni.

Lalu Tante Reni berkata lagi, “Apakah kamu pernah berhubungan sex dengan wanita?”

Aku menjawab sambil gemetar, “Jangankan berhubungan sex, mencium wanita saja baru kali ini.”

Tante Reni tersenyum dan berkata, “Hari ini Tante akan ajarkan cara berhubungan sex dengan seorang wanita.”

Lalu Tante Reni membuka bajunya sehingga telanjang bulat, lalu dipegangnya tanganku dan dibawanya ke buah dadanya yang cukup besar

Sambil gemetaran aku memegang buah dadanya dan memegang putingnya.

Tante Reni mendesis merasakan kenikmatan usapanku dan berkata, “Terus Bayu.., terus..!”

Baca Juga : Dapat Service Memek Dari Pramugari Seksi

Lalu dengan memberanikan diri aku mencium putingnya, dan Tante Reni bertambah mendesis. Dibukanya celana pendekku dan CD-ku, sehingga aku juga menjadi telanjang bulat sepertinya. Penisku dielus-elusnya sambil berkata, “Bayu, punyamu besar amat, lebih besar dari punya Om Wahyu.”

Setelah puas menghisap puting buah dada tante, aku mencium pusarnya, dan akhirnya sampai di vaginanya.

“Ayo Bayu, cepat hisap punyaku..!”

Aku memberanikan diri mencium kemaluannya dan menjilat-jilat dalamnya, sedangkan tante tambah mendesis.

Tante berkata, “Sabar Bayu, Tante kepingin mencium punya Bayu dulu.”

Lalu dia membaringkanku di tempat tidur dan mulai mencium biji kemaluanku dan menghisap penisku perlahan-lahan. Serasa dunia ini melayang, alangkah nikmatnya, baru pertama kali batang kemaluanku dihisap oleh seorang wanita cantik, apalagi oleh Tante Reni yg sangat cantik.

Penisku semakin membesar, dan rasanya seperti mau kencing, tetapi rasanya sangat nikmat, ada yang mau keluar dari kemaluanku.

Aku menjerit, “Tante, Tante.., lepas dulu, aku mau kencing dulu.”

Tetapi rupanya tante sudah tahu apa yang mau keluar dari kemaluanku, malah dia semakin kuat menghisap penisku. Akhirnya meletuslah dan keluarlah air maniku, dengan mesranya Tante Reni menghisap air maniku dan menjilat-jilat penisku sampai bersih air maniku.

Batang kemaluanku terkulai lemah, tetapi nafsuku masih terasa di kepalaku.

Lalu tante berkata, “Tenang Bayu, ini baru tahap awal, istirahat dahulu.”


Aku diberi minum coca-cola, setelah itu kami berciuman kembali sambil tiduran. Tanpa kusadari kemaluanku sudah membesar lagi dan kembali aku menghisap buah dadanya.

“Tante.., aku sayang Tante.”

Lalu tante berkata, “Ya Bayu, Tante juga sayang Bayu.”

Lalu aku menjilat vagina tante sampai ke dalam-dalamnya dan tante menjerit kemanjaan.

“Ayo Bayyuuu.., kita mulai pelajaran sex-nya..!”

Penisku yang sudah tegang dimasuukkan ke dalam liang kemaluan Tante Reni yang sudah licin karena air vaginanya.

Perlahan-lahan batang kemaluanku amblas ke dalam lubang kemaluan tante, dan tante mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Aduh terasa nikmatnya, dan kembali kami berciuman dengan mesranya.

Lalu aku berkata kepada Tante Reni, “Tante.., kalau tahu begini nikmatnya kenapa enggak dulu-dulu Tante ajak Bayu bersetubuh dengan Tante..?”

Tante hanya tersenyum manis. Terasa penisku semakin mengembang di dalam vagina Tante Reni, tante semakin mendesis.

Tante mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berkata, “Bayu.., Tante kepengen keluar nih..!”

Kujawab, “Keluarin saja Tante, biar Tante merasa nikmat..!” SahabatPoker

Tidak lama kemudian tante menjerit histeris karena orgasme dan mengeluarkan air kemaluannya, penisku masih tegang rasanya.

Dengan lembut aku mencium tante dan berkata, “Tante sabar ya, Bayu masih enak nih..,”

Kemudian aku semakin memperkuat tekanan batangku ke liang tante, sehingga tidak lama setelah itu aku memuncratkan air maniku di dalam vagina Tante Reni bersamaan dengan keluarnya cairan tante untuk kedua kalinya. Terasa tubuh ini menjadi lemas, kami tetap berpelukan dan berciuman. Setelah istirahat sebentar, kami mandi bersama saling menyabuni tubuh kami masing-masing, dan kami berjani untuk melakukannya lagi dilain waktu.

Setelah peristiwa itu, setiap malam aku selalu terkenang akan vagina Tante Reni, sehingga rasanya aku ingin tidur bersama Tante Reni, tetapi bagaimana dengan Om Wahyu. Rupanya nasib baik masih menemaniku, tiba-tiba saja Om Wahyu dipindahkan tugasnya ke Bandung, dan untuk sementara Tante Reni tidak dapat ikut karena Om Wahyu tidurnya di mess. Sambil mencari kontrakan rumah, Tante Reni tinggal di Jakarta, tetapi setiap Sabtu malam Om Wahyu pulang ke Jakarta.

Atas permintaan Tante Reni, setiap malam aku menemaninya, aku harus sudah ada di rumah Tante Reni jam 8 malam. Untuk tidur malam, aku disiapkan sebuah kamar kosong, tapi untuk kamuflase saja, sebab setelah pembantunya tidur aku pindah ke kamar Tante Reni. Tentunya Tante Reni sudah siap menyambutku dengan pelukan mesranya, dan kami bercumbu sepanjang malam dengan nikmatnya dan mesranya. Kalau waktu pertama kali aku hanya menghisap kemaluannya, sekarang kami sudah saling menghisap atau gaya 69. Lubang kemaluan Tante Reni sudah puas kuciumi, bahkan sekarang bukan saja lubang vagina, tetapi juga lubang anus, rasanya nikmat menghisapi lubang-lubang tante. Penisku juga dihisap tante dengan ketatnya dan terasa ngilu ketika lubang kencingku dihisap Tante Reni, tapi nikmat.

Setelah kami saling menghisap, akhirnya barulah kami saling memasukkan kemaluan kami, dan kali ini tante berada di atasku. Batang kemaluanku yang sudah tegang dan berdiri tegak Bayuukkan ke kemaluan tante, aduh nikmatnya. Lalu aku menghisap buah dada tante sambil menggoyang-goyangkan pantatku. Kira-kira sepuluh menit, tante mengeluarkan air maninya sambil menjerit nikmat, namun aku belum mengeluarkan air maniku. Lalu aku bertukar posisi, sekarang tante di bawah, aku yang di atas. Karena tante sudah keluar, terasa mudah memasukkan kemaluanku ke dalam vagina tante, dan kembali kami berpacu dalam nafsu.

Sambil mencium bibir Tante Reni, aku berkata, “Tante… Tante.., kenapa sih lubang Tante enak banget, punyaku terasa dijepit-jepit lubang Tante yang lembut.”

Sambil tersenyum tante menjawab, “Bayu.., batang kamu juga enak, kalau dengan Om Wahyu Tante hanya bisa orgasme sekali, tetapi dengan kamu bisa berkali-kali.”

Kembali aku menekan batang penisku erat-erat ke liang kemaluan tante sambil mengoyang-goyangkan pantatku, dan akhirnya aku menjerit, “Tante.., Tante.., aku keluar..!”

Alangkah nikmat rasanya.

Perlahan-lahan aku mengeluarkan batang kemaluanku dari liang senggama tante. Setelah itu kembali kami berciuman dan tidur sambil berpelukan sampai pagi. Ketika bagun pagi-pagi aku kaget, karena aku tahu di sampingku ada Tante Reni yang tidak memakai apa-apa, nafsuku timbul kembali. Kubangunkan Tante Ciindy dan kembali kami bersetubuh dengan nikmatnya, dan akhirnya kami mandi bersama-sama.

Selama hampir 1 bulan lamanya kami seperti sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, kecuali hari Sabtu dan Minggu dimana Om Wahyu pulang. Pengalaman ini tidak akan terlupakan seumur hidupku, walaupun sekarang aku sudah beristri dan mempunyai 2 orang anak. Kadang-kadang Tante Reni masih mengajak aku bersetubuh di hotel. Tetapi sejak aku beristri, perhatianku kepadanya agak berkurang, lagipula usia Tante Reni sudah bertambah tua.

Rabu, 22 Juli 2020

Dinas Di Semarang Yang Sangat Bencana

Cerita Dewasa - Maya adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Maya berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Maya telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Maya apat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.



Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Herman dan Luna melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Maya pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

Menjelang tengah malam, Maya tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Maya membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Herman dan Luna sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali.

Luna yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Herman seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

“Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Maya.

Kedua tangan Herman sedang meremas-remas kedua buah dada Luna yang kecil tetapi padat berisi itu. Maya sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Maya mengharapkan mereka cepat selesai dan Herman segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Luna agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Herman sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Maya berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka. Agen Domino99

Pada saat Maya mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Maya sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Herman sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Maya berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Herman dan Luna sudah selesai dan Luna dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

Herman yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Maya, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Maya. Maya menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Herman untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Herman malu, karena dipikirnya Herman melakukan hal itu lebih disebabkan karena Herman masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Maya memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Herman akan menghentikan kegiatannya itu.

Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Herman bangkit dan duduk di samping Maya. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Maya dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

“Psssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Maya bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Maya, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Maya.

Badan Maya menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Maya seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Herman melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Maya. Jari-jari Herman membuka satu persatu kancing daster Maya, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Maya, sehingga terlihatlah payudara Maya yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

Sekarang Maya tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Herman. Herman sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Luna, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.


Sejak saat itu Herman bertekad untuk tidak akan membebaskan Maya. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Herman akan menikmati tubuh Maya berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Maya terlalu sayang untuk disimpan oleh Maya sendiri pikir Herman. Herman mendorong tubuh Maya dan mulai meremas-remas payudara Maya yang telah terbuka itu,

“Dengerin sayang, kamu akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal kamu baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

Kesadaran Maya mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Maya perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Herman yang sedang merangkak di atasnya. Maya mencoba mendorong badan Herman sambil berkata,

“Herman, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Herman, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Herman berada dalam keadaan mabuk, Maya mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Herman.

Akan tetapi Herman yang telah sangat terangsang melihat tubuh Maya yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

“Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! Kamu emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Herman sambil menekan tubuhnya ke tubuh Maya.

Maya berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Herman akan membalas berlaku kasar padanya.

Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.
Sambil menjilat bibirnya Herman berbaring di sisi Maya.

“Lin, lebih baik kamu mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa kamu dan saya perkosa kamu habis-habisan. Kalau kamu nurutin, kamu akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Maya, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Maya. “Bodi kamu oke banget!”, kata Herman. “Coba kamu berputar Maya!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Maya berputar membelakangi Herman. Dan dirasakanya tangan Herman sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

Kemudian Herman menyibakkan rambut Maya, dan dihirupnya leher Maya dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Maya. Sambil melakukan hal itu tangan Herman berpindah menuju kemaluan Maya. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

“Kasihan kamu, Maya, pasti suami kamu tidak tahu cara membahagiakan kamu?”,

“Tapi tenang aja sayang, dengan saya, kamu nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, kamu bakalan merasakan bagaimana menjadi wLuna sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Maya.

Setelah itu Herman mengambil tangan Maya dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Maya tersentak, belum sempat Maya dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Herman dan dengan cepat Herman telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Herman. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Herman lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Maya,

“Apa kamu mau saya masukin itu?”,
“Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann……”, Maya dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Herman.

Maya mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Herman agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewLunaannya.
Sambil tersenyum Herman berkata lagi,

“Kamu tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik kamu diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Herman lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Maya dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Maya dengan tanpa dapat dihalangi lagi.

Testis Herman mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Maya, sementara Maya megap-megap karena dorongan keras Herman.

Maya belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Herman. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Herman yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Maya mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Herman, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Maya hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan. SahabatPoker

Maya hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Maya mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Herman di atasnya. Herman melihat Maya mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Maya sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Herman merasakan tangan Maya merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Maya. Herman terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Maya.

Herman sekarang ingin membuat Maya orgasme terlebih dahulu. Maya semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Herman, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Herman, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Herman.

Sekarang Maya secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Herman, sehingga badan Herman mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Herman terasa semakin keras, sehingga Herman semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Maya dalam-dalam. Maya merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Maya tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,

“Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

Kedua pahanya mMayagkari pantat Herman dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Maya. Herman merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Maya yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Maya dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelus kepala penisnya.

Setelah beristirahat sejenak dan melihat Maya sudah agak tenang, Herman mulai memompa lagi. Pompaan Herman kali ini segera dibalas oleh Maya, pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penis Herman serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Maya berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Herman merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Maya berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi.

Wah, suatu sensasi melanda perasaan Herman, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wLuna manapun juga selama ini. Menyesal Herman karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Maya makin bervariasi. Terkadang Herman malah meminta Maya berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Maya pada penis Herman membuatnya geli-geli dan serasa akan ‘meledak’.

“elusan” vagina Maya. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewLunaan Maya semakin menggila dan semakin liar.

Hingga akhirnya Herman harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Herman bergerak mengimbangi goyangan pinggul Maya, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Herman menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewLunaan Maya, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Herman melayang tadi, tiba-tiba kaki Maya yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Herman kuat-kuat. Amat sangat kuat.

Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi…, Maya pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Maya.

“Maaannn, aduuuh, Maaannn, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Mann….!”.

Herman tersenyum puas melihat tubuh Maya terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Maya dengan eratnya menekan pantat Herman ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Herman pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Maya. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Maya langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Maya merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.

Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Maya kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Maya mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Maya, Herman mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.


Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Maya dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Maya ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewLunaan Maya. Pada saat merasakan penis Herman mulai menerobos masuk ke dalam kewLunaannya, Maya bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewLunaannya.

Dengan perlahan-lahan Herman menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Maya mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.

Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Luna telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Maya merasa sangat malu terhadap Luna, tapi melihat reaksi Luna yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Maya menjadi terbiasa

Senin, 13 Juli 2020

Enaknya Ngentot Dengan 3 Pria Aktif

Cerita Dewasa - Aku mempunyai teman cowok di perusahaan swasta tugasnya adalah menemui klien jika ada klien yang minta penjelasan dari penawaran yang kantor berikan, hari Jumat biasanya telpon sepi tapi pukul 09.30 pagi tadi ada telpon dari salah satu klien untuk diberi penjelasan mengenai penawaran yang kami berikan.



Sekitar jam 11.00 tiba-tiba datang seorang cewek, dia adalah Bella, kami tahu dia adalah pacarnya Antonius. Kami persilahkan Bella untuk masuk dan menunggu Antonius yang sedang ada dinas keluar. Bella juga bilang kalau memang disuruh Antoius untuk menunggu dikantor.

Bella waktu itu baru pulang dari kantornya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor kami. Kami berempat berbincang-bincang diruang tengah. Bella duduk di kursi meja kantor Antoius. Bella mengenakan blazer warna abu-abu dengan rok span diatas lutut. Cantik.


Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Bella, 22 tahun, mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran (kira-kira) 34c, dan kulitnya putih. Dengan wajah layaknya cewek kantoran.

Sekitar jam 12.25 tiba-tiba Antoius telepon kantor memberi kabar kalau 2 roda belakang mobil yang dipakai mengalami kebocoran di jalan padahal posisi dia ada di tempat yang jauh dari pemukiman dan belum sampai ke tempat calon klien. Dia mencoba untuk mencari tempat tambal ban di dekat situ. Antoius juga sempat bebincang dengan Bella untuk sabar menunggu.

Kami pun meneruskan perbincangan kami berempat. Dengan bercanda kami juga menggoda Bella dengan cerita-cerita mengenai hubungan dia dengan Antoius. Diluar terlihat mulai mendung. Dan benar saja tidak beberapa lama kemudia turun hujan. Aku mencoba menghubungi HP Antonius, dia masih mencari tempat tambal ban dan kehujanan juga. Kami teruskan pembicaraan.

“Bella, gimana “punya” Antoius, gede nggak?”, tanya Indra menanyakan sesuatu yang membuat merah padam muka Bella.

“Ah…mas Indra…tanyanya kok gitu…rahasia dong”, jawab Bella malu-malu.

“Gedean mana kalo sama punya Pak Redi ….”, tanya Indra sambil menyebutkan namaku.

“Ah….mas Indra…”, jawab Bella lagi.

Pembicaraan seperti itu pun terus berlanjut. Kami semakin memojokkan Bella dengan pertanyaan-pertanyaan menjurus sex. Kami juga tahu kalau Bella sudah sering berhubungan badan dengan Antonius dari cerita Antonius sendiri. Dan hal itupun tidak kami tutupi dalam pertanyaan untuk memojokkan Bella.

“Eh, kalian berdua jangan “nganggurin” Bella gitu donk, kasih Bella “minum” ..!” perintahku kepada Indra dan Beni dengan perintah simbolis. Rupanya Indra dan Beni tahu apa maksudku.


“Oh iya, sori Bella, maaf Boss…..!” jawab Beni sekenanya sambil pura-pura berjalan menuju belakang ,padahal dia berjalan kearah belakang kursi Bella dan hal itu tidak disadari Bella. Diluar hujan semakin deras!

Dengan gerakan kilat Beni merangkul Bella dari belakang….

“Gini..,” kata Beni dengan mendekap erat Bella. “Kamu pikir deh Bella… umurmu baru 22 dan bodymu sexy, ngga kecewa donk kami nyobain kamu” lanjut Beni semakin erat mendekap Bella yang meronta dan terkejut mendapat perlakuan seperti itu.

“Ah … apa-apaan ini” teriak Bella , sehingga tampaklah wajahnya yang ketakutan.

Hal ini semakin membuat kami bertiga jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Indra menarik kaki Bella.

“Diam…sebentar Bella..!” perintahku sambil mencoba melepas kancing blazer yang Bella pakai.

Lalu Bella dengan terburu buru ikut mencoba melepas rok yang dipakai Bella dan sambil bicara kepada saya, “Dah boss ditidurin aja dulu di lantai”.

Bella semakin meronta dan coba berteriak tapi dekapan tangan Beni dan Indra membungkam erat mulut Bella. Dan teriakan lenyap ditelan suara derasnya hujan.

“Sudah kamu ngga usah melawan, yang penting sekarang kamu santai aja di lantai dan ikutin permainan kami” timpalku.

“Permainan apa …..?” tanya Bella dengan ketakutan.

Tapi kami senang sekali, apalagi saya melihat Bella seperti ini. Saya jadi tambah horny….

“Ok-ok ..baik..,” kata Bella tiba-tiba, “Kalian semua sudah tahu kalau aku sering berhubungan badan dengan mas Antonius….tapi jangan ceritakan kejadian ini… aku mau melayani permainan kalian…”, kata Bella membuat kami bertiga terkejut mendengarnya.

Tiba-tiba saja Bella langsung mendekati saya dan segera menciumi saya di bibir.. Otomatis saya merespon. Lidah kami saling ‘bergerilya’. Kemudian ciuman Bella berganti ke bibir Beni, hm.. enaknya pikirku. Dan berganti lagi ke bibir Indra. Aku jilati leher Bella, terus dia juga menjilati kuping Indra.

Tanpa sadar Bella mendesah, “Ahh, enak, Mas… terus..!” Agen Domino99


“Sekarang aku buka baju kamu….! Tapi tangan kamu tetap diam…. boleh pegangan jalantol Beni atau Indra ..!” kataku.

“Aduh dingin dong..! Masa mau ML saya yang ditenjangi dulu..!” jawab Bella.

Dengan cepat aku membuka baju Bella dan langsung aku lempar. Dengan sigapnya Indra dan Beni langsung bergerilya di dada Bella. Dinaikkannya BH Bella sehingga mereka berdua bisa menggigit kedua puting Bella.

“Ahh, enak gigitannya….” Bella mendesah pelan.

Samar-samar saya melihat Bella sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Sekarang tangan saya mencoba mencari buah dada Bella untuk saya remas-remas.

Beni dan Indra segera menuju bagian bawah tubuh Bella.

“Pokoknya santai saja Bella…!” kata Beni sambil menaikkan rok yang dikenakan Bella.

“Hmm.., CD model low cut dengan warna hitam nih..!” ujar Indra sambil bergumam melihat CD yang dipakai Bella.

“Kamu tahu saja kesukaan kami..!” kata Indra, “Dan kamu seksi banget dengan CD warna ini, bikin kita horny….!” kataku. Dan sekarang Bella sudah berjongkok untuk dia mulai ber-‘karaoke’.

“Oohh, enak, sedot lagi yang kuat Bella..!” kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 15 menit Bella telah ber-‘karaoke’ terhadap penis kami bertiga. Kemudian Bella dengan perlahan melepas sendiri seluruh baju, rok dan pakaian dalamnya.

“Sekarang…sentuh tubuh telanjangku….!” kata Bella memerintah kami bertiga.

Kesempatan ini tidak kami sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Bella di lantai dan saya jilati vaginanya, dan Beni juga tidak kalah ganasnya menyedot habis kedua putting Bella sedangkan Indra melumat habis bibir Bella. .Samar-samar saya mendengar Bella mulai mendesah.

Kali ini saya gantian ke buah dada Bella, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun puting Bella.

Dan Bella kemudian bicara, “Ayo isep… puting saya..!”

“Wah ini saatnya ..!” pikir saya dalam hati.

“Kamu minta diisep puting kamu..!” jawab saya sambil tersenyum.

Saya lihat Bani dan Indra tersenyum melihat Bella terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dada Bella, saya turun lagi ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Bella yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Bella.

“Ohh.. enakk..! Terus donk Mas..!” sahut Bella sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

“Ahh….aku mau keluar,” lirih Bella
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Bella keluar diiringin teriakan dari Bella.

“Mas, kamu kok hebat ….mainin memekku..?” kata Bella terputus-putus.

Saya hanya tersenyum saja.

“Masukin punya mas…sekarang..!” pinta Bella.

“Nanti dulu, puting kamu aku isep lagi..!” jawab saya.

Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencangnya secara bergantian, kiri dan kanan.

“Ahh, enakk mas..! Kencang lagi..!” teriak Bella.

Mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny, apalagi penisku sudah dari tadi menunggu giliran ‘masuk’. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vagina Bella.

“Sempit banget memek Bella…!” pikir saya dalam hati.

Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga penis saya ke vagina Bella

“memek kamu enak dan sempit ….” kata saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Bella yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Bella yang terus mendesah dan teriak.

“Terus mas… tambah cepet ..!”

Dan sekilas di samping saya tampak Beni dan Indra dengan penis mereka sudah menegang.

“Sabar …tunggu giliran kalian, sekarang aku beresi dulu memek Bella ini..!” jawab saya sambil sambil menggoyangkan Bella.

Beni dan Indra hanya menganggukan kepala.

Tidak lama kemudian Bella minta ganti posisi, kali ini dia mau di atas.

Kami pun berganti posisi.

“Ahh.., enakk.., penis mas terasa banget didalam..!” teriak Bella  sambil merem melek.

5 menit kemudian Bella teriak, “Ahh.., aku keluar lagi..!” dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.

Tetapi saya belum keluar. Akhirnya saya ganti dengan gaya dogy.

Kali ini kembali Bella menjerit, “Terus… mas..!”

Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.

“Bella, mau keluarin dimana..?” tanya saya.

“Di muka saya saja.” jawabnya cepat.

Kemudian, “Croott.., crott..!” sperma saya saya keluarkan di wajah Bella.

Kemudian Bella dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Saya melihat Beni dan Indra meremas penis masing-masing dan dia pun melihat Bella dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti saya.

Tiba-tiba saja Indra mencium Bella dengan ganasnya. Secara otomatis Bella membalasnya. Kemudian ciuman Indra mulai turun ke leher Bella dan dada . Bella hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada Bella diremas-remas oleh Indra dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

“Hmm.., vag|na kamu bakal aku bikin basah lagi…..!” kata Indra dengan suara menggoda.

Kemudian tanpa diperintah Indra segera mencium dan menjilati vag|na Bella dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.

“Ahh.. ahh.. ahh.., enak mas..!” timpal Bella.

Kemudian Beni tidak mau kalah, segera Beni raih buah dada Bella dan segera menghisapnya. Beni mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, Beni juga remas-remas buah dada Bella.


“Yang kencang mas..!” kata Bella lirih.

Kurang lebih 5 menit Beni memainkan dada Bella, kemudian Beni turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Bella yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

“Memek kamu sudah basah Bella.., sudah ngga tahan yach..?” kata Beni sambil tersenyum.

Bella hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian Beni mendekatkan mulutnya ke depan vagina Bella, dan langsung Beni hisap jilati vagina Bella

“Teruss..! Enak…mas!” itulah suara yang terdengar dari mulut Bella .

Setelah 10 menit Beni memainkan vagina Bella, Beni melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera Beni memasukkan penisnya ke dalam vagina Bella.

“Pelan-pelan….!” kata Bella.

Beni hanya tersenyum dan segera mencium Bella, dan Bella pun membalasnya dengan penuh semangat.

Bless, seluruh penis Beni kini berada di dalam vagina Bella. Dan tanpa dikomando lagi Beni segera bergerak diikuti goyangan pinggul Bella. Bella memeluk Beni begitu eratnya dan Beni memperhatikan wajah Bella yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Bella ingin berganti posisi.

“Gantian dogy …!” pinta Bella

Beni turuti saja kemauan Bella.

“Bless, bless.., bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Bella sudah basah dan menurut Beni, Bella tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan Beni, tiba-tiba saja Bella teriak, “Ah.., ahh.., ahh.., aku keluar..!”

Kemudian Bella langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis Beni masih tertancap dalam vagina Bella. Beni segera menggerakkan penisnya supaya dapat juga segera keluar. Tidak lama Beni terasa ingin keluar.

“Keluarin di mana Bella..?” tanya Beni.

“Di dalam …..!” jawab Bella dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, “Crott, crott..!” penis Beni segera mengeluarkan semburan spermanya.

“Ahh..!” Beni bersuara dengan keras, “Enak….!” lanjut Beni.

Kemudian Beni langsung rebah di sebelah kanan Bella, sementara Indra tersenyum memperhatikan mereka berdua karena belum mencicipi Bella.

“Wah capek kamu Bella..?” tanya Indra.


Bella yang sudah lemas hanya dapat tersenyum. SahabatPoker

Setelah istirahat beberapa menit, Bella melanjutkan meladeni permainan Indra.

Tanpa terasa hampir 3 jam kami menikmati tubuhBella. Setelah selesai kira-kira setengah jam sebelum jam 4 sore Antonius datang.

Kami hanya tersenyum melihat Anto mencium pipi Bella dengan sayang

Minggu, 17 November 2019

Cerita Dewasa Nafsu Birahi Kakak Iparku Yuni

CERITA DEWASA - Sebagai anak paling kecil dari tiga bersaudara, sebenarnya aku tidak merasa mempunyai kekurangan apapun. Jarak kelahiran yang agak jauh dari kakak-kakakku malah membuatku mendapat limpahan kasih sayang dari keluarga. Tapi jalan hidup manusia siapa yang tahu, kadang apapun yang terjadi pada diri kita, tak dapat kita menduga nya.

Sahabatpoker Agen Domino99, Poker Online, Bandarq Terbaik Di Asia

Semua berawal dari kakakku yang paling besar, sebut saja mas Amran. Mas Amran semenjak SMP memang dikenal playboy. Banyak wanita yang mudah dia pikat. Kelakuannya bahkan sering memusingkan orang tuaku. Dulunya, ayahku bekerja di sebuah pabrik tekstil. Tapi karena faktor kesehatan, beliau pensiun dini, lalu buka warung kecil-kecilan depan rumah. Sedangkan ibuku seorang PNS. Usiaku dengan kakak tertuaku terpaut sekitar 13 tahun. Kata ibu, kehamilanku justru tidak disengaja. Tapi beliau menerimanya dengan gembira.

Sahabatpoker Agen Domino99, Poker Online, Bandarq Terbaik Di Asia


Saat lulus SMA, kakakku mengambil program D3. Tapi kuliahnya baru berjalan kira-kira tiga bulan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatanya karena telah menghamili anak gadis orang. Padahal waktu itu usia kakakku baru sekitar 18 tahun. Orangtuaku saat itu sangat terpukul, apalagi diketahui, kehamilan wanita itu telah memasuki bulan keenam. Akhirnya mereka dinikahkan secara diam-diam. Pernikahan mereka tidak berjalan lama, saat bayinya lahir dan baru berusia sekitar lima bulan, mereka berpisah. Sejak itu, banyak sekali wanita yang dibawa kakak ke rumah.

Kira-kira 2 tahun kemudian BandarQ Terbaik Di Asia, kakakku kembali memutuskan menikahi seorang wanita yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Waktu itu kakakku baru diterima bekerja di pabrik bekas ayah dulu bekerja. Orang tuaku tak bisa berbuat apa-apa. Wanita yang dinikahi kakakku pun sudah bekerja di sebuah bank. Pernikahan baru berjalan enam bulan, tetapi istri kakakku sudah melahirkan. Awalnya kakakku yang nomer dua, perempuan, yang kadang suka mengasuh anak kakakku. Tapi semenjak dia menikah dan diboyong suaminya, akhirnya mereka menyuruh tetangga untuk mengasuh. Belum setahun usia bayi, istri kakakku kembali hamil. Dan akhirnya dikarunia anak kembali.

Tapi kembali, pernikahan kakakku dilanda masalah. Tabiat kakakku yang suka main perempuan dan seringnya dia bekerja keluar kota, membuat istrinya tak tahan, dan akhirnya mereka memutuskan berpisah. Belum setahun perceraian, kuketahui istri kakakku sudah menikah lagi dengan teman sekantornya. Anak-anak sendiri karena masih kecil, dibawa oleh istri kakakku.
Kembali kakakku suka membawa wanita ke rumah. Warung ayah yang sudah tutup semenjak kakak keduaku menikah dan seringnya dia hanya bisa berbaring di kamar serta ibuku yang bekerja, membuat kakakku leluasa membawa wanita, apalgi di siang hari. Sesekali aku suka memergoki kakakku berduaan di kamar belakang dengan wanita, tapi sepertinya kakakku suka tak acuh. Malah dia suka memberiku uang tutup mulut. Akupun menerimanya dengan senang hati.

Ya, aku memang termasuk anak yang polos dulunya. Pergaulanku sendiri hanya sebatas teman-teman sekolah. Di rumah, aku jarang sekali main karena ibuku selalu menyuruhku menjaga ayah. Kadang aku merasa iri dengan kakakku yang sepertinya bebas kemanapun dia mau. Akhirnya saat usiaku 13 tahun, waktu itu aku baru masuk SMP, kembali kakakku menikahi seorang wanita. Tapi kali ini lain, karena wanita ini berjilbab.

Pernikahan siri dilakukan kakakku, berdasarkan kesepakatan keluarga. Wanita yang sebaya kakakku, sebut saja mbak Yuni, bekerja sebagai pelayan sebuah toko baju. Kesehariannya sangat ramah. Cara berpakaiannya pun sangat rapi dan sopan. Baju terusan panjang dan jilbab lebar selalu membingkai tubuhnya yang menurutku agak sedikit berisi, tapi menurut teman-teman ibu, bahkan sebagian teman sekolahku yang kadang datang ke rumah, bilang bahwa kakak iparku itu seksi.
Meski rumah kami agak jauh dari tetangga lain, tetapi wanita yang dinikahi kakakku kali ini sesekali suka mendapat pujian dari tetanggaku, terutama dari para lelaki muda. Malah ada teman sekampungku yang bilang, kalau dia yang jadi adik iparnya, pasti tiap hari akan mencoba ngintip kalau dia mandi, begitu candanya kepadaku. Aku sendiri sama sekali tidak menggubrisnya. Tapi memang setahun pertama pernikahan, kakakku sepertinya betah di rumah. Pulang kerja pun tak pernah telat.

Ibuku sendiri merasa senang, meski mbak Yuni bekerja, tapi dia selalu membantu menyiapkan makanan, bahkan membersihkan rumah. Jika mbak Yuni masuk pagi, biasanya baru sore harinya dia mencuci baju suaminya, bahkan kadang bajuku pun dia cuci. Jika dia kerja siang, paginya selain mencuci, dia juga membantu menyiapkan makanan. Hal itu membuat ibuku senang, kehadiran mbak Yuni sungguh memperingan kerja rumah tangga ibuku.

Aku sendiri biasanya membantunya menimbakan air jika dia hendak mencuci, ibuku yang menyuruhku, agar mbak Yuni nggak kecapekan. Lama-lama, aku dan mbak Yuni memang jadi akrab. Dia malah sering menyuruhku makan jika dia membuatkan sesuatu. Katanya supaya tubuhku gagah kayak kakakku, tidak kurus seperti sekarang. Yah, tubuhku memang agak kurus, apalagi tinggi badanku yang lumayan, membuat aku kelihatan agak ringkih. Tapi aku sendiri tidak begitu peduli, toh tidak kurus-kurus amat. Selain itu, tak jarang mbak Yuni memberiku uang jajan.
Awalnya, kami berpikir kakakku sudah berubah. Kehadiran mbak Yuni yang membuat dia betah di rumah, menyenangkan hati ibuku. Bahkan jika kebetulan mbak Yuni libur, kakakku sering datang siang hari, dan bersenda gurau di kamar dengan mbak Yuni. Tingkah mbak Yuni pun suka aneh, biasanya jika mereka bedua, kulihat cara bicara mbak Yuni suka berbeda, menjadi sedikit genit. Beda jika ada ibuku.

Tapi ternyata waktu berkata lain. Setahun lebih pernikahan mereka, kesibukan kakakku menjadikan dia kadang jarang ada di rumah. Semenjak mendapat tugas pengawas pemasaran, kakakku jadi makin sering keluar kota. Meski tidak mengganggu keharmonisan mereka, tapi kadang hal itu membuat mbak Yuni jadi sering melamun.

BandarQ Terbaik Di Asia Awalnya tidak begitu kelihatan, maklum jika di depan semua orang, sepertinya tidak ada apa-apa. Tapi jika dia sendirian, tak jarang aku memergokinya sedang melamun. Bahkan sesekali sering aku mendengar keluhannya, walau awalnya aku tidak mengerti, saat dia sedang berdua dengan kakakku, ”Mas, jangan capek terus dong.” katanya. Dan ditanggapi kakakku dengan lenguhan lesu. Semenjak itu, mbak Yuni seperti mencari kesibukan juga. Dia kadang mengambil lembur.
Dan kemudian, siang itu, awal dari makin dekatnya hubunganku dengan mbak Yuni… Siang itu, hari begitu panas. Aku sebenarnya baru pulang dari sekolah dan sedang makan, tapi karena udara panas, aku memutuskan untuk mandi. Aku lihat bak mandi kosong, akhirnya aku yang sudah tak berpakaian, menimba air. Sedang asyik menimba, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aku sendiri tidak begitu kaget saat kemudian mbak Yuni nongol dan tersenyum.

“Maaf, kirain nggak ada orang.” katanya. Aku tidak merasa malu dan biasa saja, bahkan saat mata mbak Yuni terus memandang kelaminku.
”Mbak mau apa?” kataku, sambil kemudian aku perlahan mengambil handuk yang mengantung tak jauh dariku, dan melilitkannya ke pinggang.
“Mbak nggak kuat, sakit perut!” katanya.
“Ya udah, mbak dulu aja.” kataku. Aku pun kemudian keluar.
Setelah itu, tak ada hal yang luar biasa, hanya kulihat mbak Yuni selalu tersenyum ke arahku. “Mbak kok pulang cepat?” kataku.

“Iya, minta ijin, nggak enak badan.” katanya.
Setelah itu, aku langsung masuk kamar, mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan ketika ibu pulang, aku masih asyik di kamar.

Besoknya, saat pulang kerja, mbak Yuni mengetuk pintu kamarku. ”Mbak bawa martabak,” katanya.
Aku langsung keluar, hari sekitar jam tiga sore, kulihat mbak Yuni membawa martabak ke kamar depan, ”Biasa, ayah lagi baca di kasurnya.” kata mbak Yuni tanpa ditanya. “Dari kemarin panas aja ya?” tambahnya lagi.

“Iya, mbak, padahal tadi aku sudah mandi, tapi tetep keringetan.” kataku.
”Jadi tadi nimbanya bugil lagi?” kata mbak Yuni, aku hanya nyengir. “Kamu nggak malu ya kepergok mbak?” tanyanya lagi.

“Nggak sadar, mbak. Tapi nggak apa-apa, mbak kan bukan orang lain.” kataku polos.
Tiba-tiba tangan mbak Yuni mengusap-usap pundakku. “Mbak juga mau mandi, baknya penuh nggak?” katanya.

”Tadi sih masih setengah. Nggak apa-apa, nanti aku isi.” jawabku sambil makan martabak.
”Ya udah, makan dulu aja.” katanya, kemudian dia masuk ke kamarnya. Tak lama dia keluar. Saat itu kulihat dia berpakaian daster dengan belahan sangat rendah. Bisa kulihat tonjolan payudaranya yang besar dan montok. Di tangannya ada handuk, BH, jilbab, dan celana dalam. Dia kemudian duduk di sampingku. “Duh, panas ya?” katanya sambil mengipas-ngipaskan tangan.

Ini baru pertama kalinya aku melihat dia berpakaian seperti itu, biasanya dia memakai baju panjang dan jilbab yang sangat sopan, tapi semua itu sama sekali tak mempengaruhiku. Dasar aku masih sangat polos. Bahkan saat kemudian dia mengajakku bicara dengan sedikit lain dari biasa, agak genit dan banyak usapan mesra di pahaku, aku tetap tak bereaksi.

Sejak itu, tingkah mbak Yuni menjadi agak berbeda, terutama jika kami sedang berdua. Tak jarang dia mengelus kepalaku, bahkan pahaku saat bercanda. Awalnya aku agak risih, tapi kemudian aku acuhkan. Saat itu, aku sama sekali tak mengerti, bahkan ketika dia menanyakan sesuatu yang berbau dewasa, aku menjawabnya dengan polos.

“Kamu punya pacar belum?” katanya.
“Belum, mbak.” jawabku.
”Tapi udah mimpi kan?” katanya lagi.
Aku mengangguk.

”Pertama kali kapan mimpinya?”
”Awal kelas dua kemarin, mbak.” aku menjawab.
“Mimpinya sama siapa hayo, pasti cewek ya?” katanya.
“Nggak tahu, mbak. Sudah lupa.” kataku.
“Enak nggak mimpinya?” katanya.

“Nggak tahu, mbak, lupa. Tahu-tahu sudah basah aja.” kataku.
Yah, kadang mbak Yuni menanyakan hal-hal sensitif, tapi aku merasa biasa aja, walau kadang kulihat dia cekikikan sendiri mendengar jawaban polosku. Lama-lama, kulihat mbak Yuni pun makin tidak malu dihadapanku. Aku jadi sering melihatnya keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk sedada, membiarkan paha mulusnya kemana-mana. Bahkan sepertinya dia sengaja melakukan itu, walau seringnya aku sendiri tak begitu memperhatikannya.

Dan siang itu, saat dia terus memperhatikanku, aku menganggapnya biasa. ”Mbak lihat kamu garuk-garuk burungmu terus, kenapa, gatal?” tanyanya saat aku hendak ke kamar mandi.
“Iya, mbak, numbuhnya makin banyak.” kataku tanpa sungkan, karena dia pernah menyinggungnya, dan saat itu aku bilang: ”Kata temanku cukur aja supaya nggak gatal,” tapi mbak Yuni bilang: ”Jangan, bisa makin gatal.”

”Cukur aja kali ya, mbak?” kataku.
“Ya udah, tapi biasanya makin gatal. Nanti mbak beliin bedak.” katanya.
Aku kemudian kencing. Selesai kencing, kulihat mbak Yuni keluar dari kamarnya. ”Nih, kalau mau cukuran, make ini aja. Tapi jangan bilang-bilang kakak kamu kalo alat cukurnya dipake buat nyukur bulu titit.” katanya cekikikan.

”Iya, mbak.” aku ikut tersenyum.
”Nanti alatnya bersihin lagi ya, supaya nggak ketahuan kalo habis dipake.” katanya, aku mengangguk. ”Hati hati luka, atau mau mbak yang cukurin?” katanya senyum-senyum.
“Nggak, mbak, malu. Biar aku aja nanti.” kataku menolak.

”Ya udah, cepat sekarang aja, mumpung kakakmu belum pulang.” kata mbak Yuni.
Aku kemudian ke kamarku sambil membawa handuk. Duduk di ranjang, mulai kucukur bulu kelaminku. Setelah selesai, aku kemudian mandi. Tapi benar, kurasakan rasa gatalnya tidak hilang, malah semakin terasa. Dan kulihat, aku tidak bisa mencukur bersih. Saat keluar kamar mandi, kulihat mbak Yuni sudah ada di dekat pintu. Baju gamisnya sudah berganti dengan daster berbelahan rendah. Jilbabnya juga sudah dia lepas, memperlihatkan rambut lurusnya yang panjang sepunggung.
“Sudah?” tanyanya, aku mengangguk. ”Kok cepat? Masih gatal nggak?” katanya.
“Iya, mbak. Gimana ya, mbak?” kataku.

Tangannya kemudian mengusap pundakku. ”Apa kata mbak, mending didiemin aja.” katanya. ”Mau dikurangi nggak supaya nggak gatal amat?” tawarnya. Aku mengangguk. ”Tapi janji jangan bilang siapa-siapa, termasuk ibu dan kakakmu.” bisiknya. Aku mengangguk lagi.
”Sini,” dia menarik tanganku, kemudian kami berdiri di balik pintu kamar mandi. “Kamu merem. Awas, jangan ngelihat!” katanya.

Aku yang waktu itu masih handukan menuruti apa katanya. Tiba-tiba kurasakan tubuhnya merapat ke tubuhku. Satu tangannya kurasakan mulai meraba kelaminku. Aku hanya diam saat kemudian kurasakan tangannya masuk ke dalam handukku. Sesaat kemudian, kurasakan kontolku menempel pada benda berbulu. ”Mbak,” kataku mulai tak tenang.

“Nggak apa-apa, diam aja. Nanti nggak gatel lagi, kamu pasti suka.” katanya. Perlahan kurasakan ujung kontolku digosok-gosokkan ke benda berbulu itu. Ada geli kurasakan, selain rasa hangat yang mulai menjalar cepat di batang kontolku, yang akhirnya membuatnya bangun dan menegang.
”Mbak, geli ah!” kataku parau. Mataku masih tetap merem.

”Nggak apa-apa, bentar lagi juga enggak.” katanya.
Aku tak berani melihat, walau saat itu sebenarnya aku tak begitu memejamkan mata. Wajahku ada di pundak mbak Yuni. Bisa kucium wangi keringat di lehernya, membuat kontolku makin mengeras dan menegang. Dan saat sudah benar-benar terbangun, kurasakan mbak Yuni makin menekan kontolku, melewati ruang hangat yang sempit dan lembab.

”Mbak, sudah ah, jangan!” kataku gugup. Dalam hati aku ingin mencegah, tapi kenikmatan yang kurasakan di ujung kontolku membuatku membatalkannya.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Nanti gatalnya hilang sendiri.” katanya membujuk.
Sebenarnya rasa gatal sudah tak kuingat lagi, aku hanya merasakan nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku, apalagi saat kontolku makin dalam masuk ke lubang hangat itu. Aku makin melayang. Saat itulah, tiba-tiba kurasakan pantat mbak Yuni bergerak pelan, memompa maju-mundur, membuat kontolku menggesek lubang sempit itu. Nikmat. Nikmat sekali kurasakan.

”Mbak ngapain?” tanyaku tak mengerti.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Kamu agak turun.” katanya sambil menekan pundakku, aku pun sedikit menurunkan kakiku. Kini posisi kami benar-benar pas. Kontolku masuk sempurna di lubang sempit itu. Rasa geli makin menjalar di sekujur tubuhku saat kontolku menggesek dinding-dinding basah yang melingkupinya. Nikmat yang baru pertama kali kurasakan setelah 13 tahun lahir di dunia ini. Sampai akhirnya, aku merasa tak kuasa…

”Mbak, rasanya aku ada yang mau keluar.” kataku berbisik.
“Keluarin aja,” katanya sambil terus menggerakkan pinggulnya, menyetubuhiku.
Dan ahh.. ahh… ahh… kudekap tubuh montok mbak Yuni erat-erat saat cairanku membanjir keluar. Rasa nikmatnya seperti mimpi basah, tapi yang ini lebih enak karena benar-benar nyata.
”Kamu merem terus ya tadi?” kata mbak Yuni, kurasakan kontolku ia lepas da dilap dengan ujung daster. Aku mengangguk. ”Sudah,” katanya. Ia meraih handukku dan melingkarkannya lagi ke pinggangku. “Gimana, ilang nggak gatalnya?” ia bertanya. Aku mengangguk. ”Ingat, jangan bilang siapa-siapa ya?” bisiknya. Aku mengangguk lagi. Entah kenapa, aku kesulitan untuk menanggapi pertanyaannya.

BandarQ Terbaik Di Asia Aku kemudian kembali ke kamarku. Saat selesai berpakaian, kulihat mbak Yuni masih ada di kamar mandi. Aku kemudian makan. Saat makan, mbak Yuni yang baru selesai mandi, tersenyum ke arahku. Seperti biasa, dia cuma menutupi tubuh moleknya dengan handuk. Sambil mengunyah, kupandangi pahanya yang putih mulus saat dia berlalu ke kamar. Selesai makan, mbak Yuni sudah berpakaian rapi dengan baju panjang dan jilbab lebar. Dia menghampiriku.
”Masih gatal?” tanyanya ramah.

”Sedikit, mbak.” kataku. “Mbak tadi ngapain sih?” aku bertanya. Entah, saat itu aku tak tahu mau bicara apa.
”Enak nggak?” bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.
Aku mengangguk. “Mbak masukin burungku ke anunya mbak ya?” tebakku tak percaya.
”Iya, jangan bilang siapa-siapa ya?” dia tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan. Siapa juga yang bakal bilang-bilang? Kemudian tangannya meraba boxerku. ”Coba lihat,” katanya. Dan entah kenapa, aku hanya diam saja, tidak protes. Mungkin karena teringat rasa nikmat tadi.
”Pantes, kamu nyukurnya nggak rapi.” katanya.

”Iya, mbak. Tapi nggak apa-apa. Nanti bisa dirapiin.” kututup lagi celanaku.
”Mbak mau lho bantu ngerapiin.” dia tertawa genit sebelum berlalu dari ruang makan. Aku hanya diam saja dan segera membawa piring kotorku ke belakang untuk dicuci.
Peristiwa itu terus aku ingat, bahkan sampai ibu pulangpun, aku masih melamunkan kejadian tadi. Dan esoknya, aku bahkan ingin cepat-cepat pulang, walau aku tahu mbak Yuni masih bekerja. Jantungku berdegup kencang ketika jam menunjukan sekitar pukul dua siang. Aku terus melihat ke jendela, bahkan ketika sosok mbak Yuni terlihat dari jauh, jantungku makin berdegup tak karuan. Ketika kudengar pintu depan dibuka, aku malah masuk ke kamarku.

“Kamu sudah makan?” tanyanya saat melintas di depan kamarku. Aku mengangguk, pura-pura membaca buku. Dia kemudian berlalu ke belakang. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku akhirnya keluar dan menunggunya di meja makan. Tak lama, dia muncul.
“Mbak nggak makan?” kataku saat kulihat dia minum dan hendak masuk kamar lagi.
”Tadi sudah makan bakso, masih kenyang.” katanya.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, jadi kubiarkan mbak Yuni masuk ke kamarnya. Aku terus duduk menunggunya keluar, saat itu, entah kenapa, kurasakan kontolku bergerak dan perlahan-lahan mulai menegang dan mengeras. Saat sudah ngaceng maksimal, pintu kamar mbak Yuni terbuka. Aku melihat ke arahnya, tersenyum.

”Lagi apa, kok masih disana?” kata mbak Yuni curiga. Dia sudah berganti pakaian, tapi masih tetap baju terusan panjang dan jilbab lebar.
“Nggak, mbak. Ini…” jawabku bingung. ”Kenapa burungku gatal terus ya, mbak?”
Mbak Yuni tersenyum, kemudian menghampiriku. Dia melotot melihat celanaku yang sedikit mumbul. Perlahan dia meraba dan senyumnya menjadi makin lebar. ”Mau kayak kemarin nggak?” katanya menggoda, aku mengangguk cepat.

”Di kamar mbak aja yuk.” dia mengajak. Aku mengangguk lagi. Segera kuikuti langkahnya. Sampai di kamar, mbak Yuni menyuruhku berbaring, aku menurut. Perlahan dia menarik celanaku dan tersenyum. ”Ih, kok sudah bangun sih?” katanya gemas.

“Nggak tahu, mbak.” jawabku malu. Aku sempat merasa kaget saat kemudian tanpa malu, mbak Yuni membuka satu persatu pakaiannya, termasuk juga jilbab putih yang ia kenakan. Kulihat payudaranya yang besar dan bulat menggantung indah di depan dadanya. Warnanya putih dan mulus sekali. Ada banyak urat-urat halus kehijauan di sekujur permukaannya. Tapi yang membuatku tak berkedip adalah tonjolan puting di puncaknya yang berwarna merah kecoklatan. Benda itu tampak mungil dan menggemaskan sekali.

Kemudian kualihkan pandanganku ke kumpulan rambut hitam di bawah pusarnya. Terlihat cukup lebat dan panjang. Sepasang pahanya juga tampak mulus menggiurkan. Ditambah bulatan bokong yang padat dan mengkal, jadilah dia sangat sempurna sekali di mataku. Mbak Yuni kemudian berbaring di sampingku.

”Ayo naik, tempelin tititmu di itunya mbak.” bisiknya di telingaku. Aku pun naik ke atas tubuhnya. Kutindih dia dan kupeluk erat. Mbak Yuni membalas dengan merangkul tubuh kurusku tak kalah erat. Jantungku bergejolak saat kontolku perlahan menempel di depan liang vaginanya. Mbak Yuni sudah membuka kakinya sekarang hingga aku bisa melakukannya dengan mudah. Kudiamkan sebentar, kubiarkan alat kelamin kami saling menempel dan menyapa. Saat itu mbak Yuni menekan-nekan payudaranya di dadaku, memintaku untuk memegang dan meremasnya.

”Kontolmu gede ya?” bisiknya saat tanganku mulai meraba dan mengelusnya pelan. Kurasakan betapa empuk dan halus permukaannya. Putingnya yang terasa mengganjal di sela-sela jariku, kujepit dan kupilin-pilin ringan. Mbak Yuni tersenyum melihatnya.

”Mbak, masukin ya?” kataku sambil mengecup pipinya. Dia menganguk dan kemudian meraba kontolku. Dengan bantuan tangannya, perlahan kontolku mulai masuk ke ruang hangat dan sempit yang sejak tadi aku inginkan.

”Nah, gerakin naik-turun.” katanya saat batangku sudah terbenam total di dalam lubang memeknya. Aku menurut, sambil terus meremas-remas bulatan payudaranya, perlahan aku mulai menggerakkan pantatku, mengikuti arahan tangannya yang ada di pinggangku. Rasa nikmat menjalar di seluruh tubuhku saat alat kelamin kami saling bertemu dan bergesekan. Ironisnya, nikmat itu kudapatkan dari wanita yang seharusnya menjadi milik kakakku.

Di atas ranjangnya, kudapati kenikmatan yang luar biasa saat kontolku mulai bergerak cepat di atas memek tembem mbak Yuni. Nikmat yang selalu terbayang di kepalaku ketika aku melihat tubuh mulusnya sehabis mandi. Mbak Yuni pun seakan tak mau hanya pasrah menerima sodokan-sodokanku, perlahan mulutnya mulai menghisap tetekku, memberi kenikmatan lain yang menjadikanku semakin tak peduli bahwa aku telah merasakan kenikmatan terlarang dari seorang wanita yang bukan milikku.
”Mbak, enak, mbak!” kataku lirih.

”Masukin yang dalem!” sahutnya parau. Dan saat aku melakukannya, ”oh… ya, begitu! Terus, ohh… terus!” mbak Yuni makin mendesah keenakan.
”Begini ya, mbak?” kataku sambil mencium bibirnya dan melumatnya pelan.
“Iya, kontolmu enak! Terus, ohh…” kata mbak Yuni gelagapan.

”Mbak, ohh… mbak, ahh… ahh…” akhirnya aku tak kuasa menahan desakan air maniku. Sambil menekan batang penisku dalam-dalam, kubiarkan cairan putih lengket itu keluar di lubang kemaluan kakak iparku. Setelah satu menit, perlahan aku terkulai di atas tubuh mulus mbak Yuni.
”Mbak, enak, mbak.” bisikku pelan.
”Mau lagi?” sahutnya nakal.

”Istirahat dulu, mbak.” kataku sambil mencabut penis. Kuperhatikan lelehan spermaku yang merembes keluar dari celah vagina mbak Yuni. Dia mengelapnya dengan tisu yang ada di atas meja.
”Ambilkan mbak minum ya? Haus nih.” dia meminta.

Setelah meremas-remas payudaranya sebentar, aku pun keluar menuju dapur. Tubuhku tetap telanjang. Kubawakan mbak Yuni segelas air dingin. Dia hanya tersenyum-senyum saat menerimanya. Setelah menghabiskan isi gelasnya, dia menghampiriku di tepi ranjang. ”Bentar lagi ibu pulang.” bisiknya penuh arti.

“Iya, mbak, gimana nih?” kataku. ”Aku kan masih pingin,”
Mbak Yuni mengelus-elus penisku sebentar sebelum akhirnya bangkit dan mengunci pintu depan, dengan harapan saat ibu pulang nanti tidak langsung bisa masuk. Kami sepakat main lagi di kamarku. Segera, beriringan kami berpindah kamar. Tubuh kami masih sama-sama telanjang. Saat sampai di kamarku, mbak Yuni menyuruhku duduk di kasur, sedang dia jongkok di lantai di depanku. Mbak Yuni langsung mengulum dan menghisap batang kontolku. Kurasakan nikmat yang luar biasa saat dia melakukan itu.

”Mbak, cepet, masukin sekarang ( Ke Memek Tembem nya ). Nanti keburu ibu pulang.” kataku tak kuasa.

“Sabar dong,” katanya genit.
Hari itu, akhirnya dua kali aku mengenjot tubuh sintal mbak Yuni. Dan itu bukanlah terakhir kalinya. Karena setelah itu, kami sering mengulanginya lagi. Bahkan diawal-awal bersetubuh dengan mbak Yuni, hampir tiap hari aku berusaha menggaulinya. Mbak Yuni dengan Memek Tembem Nya menerimanya dengan suka cita. Ketidakhadiran kakakku menjadi hal yang tidak mengganggunya lagi, karena kini dia bisa mendapatkan kenikmatan yang sama dari saudaranya, yaitu aku.

Sahabatpoker Agen Domino99, Poker Online, Bandarq Terbaik Di Asia


Perlahan aku pun dapat mengerti kenapa kakakku sangat suka main perempuan, ternyata kenikmatan ragawi memang telah membelenggu kakakku, dan sepertinya telah membelengguku pula. Saat itu, usiaku belum genap 15 tahun, tapi aku sudah merasakan kenikmatan seorang wanita.

BandarQ Terbaik Di Asia Hubungan terlarang kami berlangsung cukup lama, sekitar 2 tahun, sebelum akhirnya kakakku memutuskan bercerai dengan mbak Yuni. Meski mbak Yuni memberiku kebebasan untuk menemuinya, tapi aku tak berani, takut dicurigai. Untungnya, aku bertemu dengan wanita-wanita yang nakal bahkan kesepian. Selain mencari kenikmatan dari teman wanita di sekolahku, sesekali akupun mencari kenikmatan dari tante-tante kesepian yang kebetulan aku jumpai. Dan kamu tahu, aku lebih suka yang berjilbab, ada kebanggaan tersendiri kalau bisa membawa mereka ke tempat tidur.

Sabtu, 16 November 2019

Cerita Dewasa Tante Maya Haus Sex

CERITA DEWASA - Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis, namanya Maya. Tinggi badan 170, payudara 35, dan tubuh nya yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Maya, karena suaminya sering ditugaskan ke luar kota Sahabatpoker.

Oh ya, tante Maya mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 3 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 38B, dan tinggi 167. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 169 dan payudara 35.


 Agen domino99, Bandarq Terbaik Di Asia, Poker Online, Sahabatpoker.


Tiga wanita cantik dan seksi yang suka sekali memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Maya di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar kota untuk 6 hari.

Hari Selasa pagi BandarQ Terbaik Di Asia, aku memacu motorku ke rumah tante Maya. Setelah perjalanan 20 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Maya belum berangkat kerja.

“Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
“Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Fifi membalas sapaanku.
“Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
“Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasa ya.” Dari dapur tante menyuruh aku.
“OK Tante” jawabku singkat.

“Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.
“Daah Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu kembali mobil ke rumah tante Maya.

Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Maya masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang 5 menit tidak terdengar suara air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku.

Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci.

Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Maya tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Maya sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, “Hmm, ohh, arhh”.

Aku lihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya BandarQ Terbaik Di Asia tante Maya ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya.

Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Maya, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Maya berhubungan badan denganku.

“Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Maya mengagetkan aku.
“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Maya sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Maya berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

“Hmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Maya sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
“Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
“Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.

“Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gede juga ya Mr. P kamu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.

“Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya.
“Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah.
“Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya.

Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

“Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
“Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.” Aku semakin salah tingkah.
“Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan.
“Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.
Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

“Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.” tante Maya merengek perlahan.
“Hmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Maya.

Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

“Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
“Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku.
Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.
“Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gede.” Gila tante Maya ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

“Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
“Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
“Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi.
Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.

“Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
“Hmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.
Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P
“Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Maya sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Maya.

Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya BandarQ Terbaik Di Asia, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

“Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
“OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
“Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
“Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Maya. “Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras.

“Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.
Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

“Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku.
“Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
“Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.
“Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Maya, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot.

Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

“Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P” aku memberi peringatan ke tante.
“Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.

Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Maya, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

“Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan.
“Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante.
Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.
“Ahh..” kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Maya ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.

“Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Maya semakin menambah rangsangan.
10 menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. Fir tante nyampai lagi”

BandarQ Terbaik Di Asia Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Maya, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.

“Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante.
“Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

“Arghh.. tante aku nyampai”.
“Aku juga Fir.. ahh” tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

“Fir, kamu hebat.” puji tante Maya.
“Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya.
“Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante.
“Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya.
“Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.



Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami rasakan. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

Minggu, 28 Juli 2019

Cerita Dewasa Gairah Sexku Bersama Anak Teman Baik Ku

CERITA DEWASA - Panggil saja namaku Arlin, tinggi 162 cm, berat 54 kg dengan lingkar pinggang 63 cm, Secara keseluruhan, sosokku terlihat kencang dan garis seksi tubuhku tampak jelas bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak, berusia 40 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota Semarang. Sahabatpoker

Kata orang bentuk tubuhku mirip salah satu artis yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dan semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.



Kira-kira 7 tahun yang lalu saat umurku masih 33 tahun salah seorang sahabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya.

Nama nya Sandy, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 174 cm. Badannya kurus kekar karena Sandy seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandy ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi Guru SD. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. BandarQ Terbaik Di Asia

Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandy memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah keluar negeri selama 3 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 3 kali.

Awalnya biasa saja, tapi setelah 8 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, aku masih belum juga bangun walau jam telah menunjukkan angka 8.

Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu langsung kembali tidur-tiduran di kamarku. Tak lama terdengar suara pintu yang dibuka.

“Bu Arlin..?” Suara Sandy berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat, aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandy sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

“Bu Arlin..?” Suara Sandy terdengar lebih keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyenyak atau tidak. Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

Lalu kurasakan Sandy mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat.

Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur. Kuatur napas selembut mungkin lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku.

Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, dan aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

Sekarang tangan Sandy sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam.

Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandy mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, namun aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Sandy mulai menelusuri selangkanganku, kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandy menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku.

Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandy mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Sandy!! Ngapain kamu?”

Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandy menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandy mencium mulutku dengan cepat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandy makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang kekar dan berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu…” Sandy melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

“Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Arlin.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandy.

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya. Lalu Sandy melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. BandarQ Terbaik Di Asia

Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin.

Benarkah pemuda seperti Sandy terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas. Keluar dari kamar mandi, matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak tertutup sehelai benangpun.

“Body Ibu bagus banget…” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku.

Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“Ibu hebat…,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mengacak-acak rambut Sandy yang panjang seleher.

“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.
“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. Dibukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandy minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

Sandy tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya?” godanya.

“Kamu juga sudah enggak kuat kan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.

Sandy tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandy pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandy yang besar.

Berbeda dengan suamiku, Sandy nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Sandy menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandy, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak bercinta sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku.

Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandy, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tidak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandy semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandy memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandy mulai memaju mundurkan roket rudalnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

Sandy tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh…, Saannn…!!!”

Sandy malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

Sandy terus mengenjot-genjot. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandy sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget bercinta sama Ibu!” Sandy menyodok-nyodok semakin kencang.

“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandy, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah beberapa bulan aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandy mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Sandy. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandy mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku. BandarQ Terbaik Di Asia

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandy dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandy segera menunduk dan dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandy mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Sandy melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghujam-hujam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

Sandy tidak bersuara, melainkan mengenjot-genjot semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandy pun kali ini segera akan mencapai klimaks.

Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumaju mundurkan berlawanan dengan gerakan Sandy. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Sandy menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu ku kangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkat. Sandy langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandy memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghujam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

“Aku hampir keluar!” Sandy bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati genjotan-genjotan keras batang kemaluan Sandy. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak bercinta sama Ibu!” Erang Sandy

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan

aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandy menekan kuat-kuat, menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandy memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sibuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Sandy beberapa saat kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandy bergerak-gerak di dalam vaginaku.

“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Sandy bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandy menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Sandy lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandy karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandy mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa enggak puas-puas bercinta sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandy sebagai jawaban.

Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandy kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.

Sudah seminggu Sandy menjadi suami ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandy benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.

Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandy selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikan bajuku lagi.

Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandy meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah.

Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah. Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandy padaku.

“Masuk.. Nggak dikunci,” panggilku dengan suara halus.

Lalu Sandy masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.

“Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.

“Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri.

Tapi Sandy menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sambil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.

“Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?”

“Memangnya lewat mana..?” Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.

Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandy berucap.

“Dari sini bu..” Bisiknya.

Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BH-ku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.

Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandy masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandy lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.

“Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini. Lalu tangan Sandy menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya.

Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandy dan menyedot dengan keras air liur Sandy, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandy dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.

Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan “push up bra style”. Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya.

Untuk lebih membuat Sandy lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai vagina yang menyembul mendesak CD-ku, karena saat itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.

Sandy tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandy mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku.

Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandy memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman Sandy dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.

Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandy lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.

“Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..”

Sandy lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandy, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah.

Lalu Sandy menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras yang segar menantang ke atas. Sandy mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.

Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandy dan kulemparkan kekursi rias. Dengan penuh nafsu Sandy menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CD-ku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menantang segar ke atas.

Lalu Sandy merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CD-ku yang sudah basah lembab, ia langsung menurunkannya, mendorong dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.

Tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada vaginaku, dimana bagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat, dibagian belahan vagina bagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandy semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.

“Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”

Sandy segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah.

Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan gunung merapi yang ingin memuntahkan lahar nya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandy dan menekannya kebawah sambil mengerang.

“Ssaann.. Aarghh..”

Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, lahar pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandy yang mancung.

“Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” vaginaku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.

“Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam vaginaku sayang.. Cium ibu sayang.”

Sandy segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandy dalam rongga mulutku yang indah.

Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandy pun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat.

Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandy mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan mendorong badan Sandy yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya.

Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandy, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandy yang berambut, Kubelai dada Sandy yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang satunya lagi. Mengelinjang Sandy mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, Sandy pun mengerang dan mendesah.

Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandy ditekan kebawah dan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandy sampai akhirnya kekemaluan Sandy membesar dan mengeras. Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandy yang menantang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit Sandy yang putih.

Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala rudalnya Sandy dengan penuh gelora nafsu, kusapu kepala rudalnya dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandy memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan kenikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.

“Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandy mengerang.

Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu mata ke arah Sandy yang sedang kelenjotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala rudalnya tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.

Sadar akan keadaan Sandy yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan vaginaku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan rudalnya Sandy dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandy menghadap kekakinya.

Kumasukkan rudalnya Sandy yang keras dan menegang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar dan kupompa naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakan pun kutambah sampai kecepatan maksimal. BandarQ Terbaik Di Asia

Sandy berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandy yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Tangan Sandy pun tak tinggal diam, diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada rudalnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.



“Buu Liinnaa.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung rudalku sudah tak tertahankan”

“Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr” .

Lalu Sandy memintaku untuk memutar badan menghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandy menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku.

Sambil mengayun dan memompa rudalnya dengan cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandy yang tak tahan lagi akan denyutan diujung rudal yang semakin mendesak seakan mau meledak.

“Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”

“Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”

Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret… tak tertahankan lagi bendungan Sandy jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan.

Segera kusambar bibir Sandy, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandy. Kudekap badan Sandy yang mengejang, basah badan Sandy dengan peluh menyatu dengan peluhku.


Agen Domino99
Agen Domino99
Agen Domino99